KETIK DISINI UNTUK MENCARI

17 Nov 2014

KURIKULUM 2013 LEBIH DINAMIS SETARA DENGAN SEKOLAH BERSTANDAR INTERNASIONAL SBI

Ketika suatu kebijakan diterapkan, kadang harus berhadapan dengan sikap pro-kontra. Hal itu juga terjadi saat kebijakan Kurikulum 2013 mulai diterapkan. 

Tudingan dan cercaan untuk mengganti pola dan sistem pengajaran di jenjang SD - SMA dengan metode dan sistem baru, diterima Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Pendidikan Dr H Musliar Kasim selaku salah seorang inisiator.

Padahal inti dari perjuangan Kurikulum 2013 ini adalah agar semua peserta didik yang dihasilkan dari masing-masing tingkatan pendidikan mempunyai kompetensi sesuai dengan yang diinginkan.

Menurut Musliar saat menghadiri diskusi pendidikan di kota "Anging Mammiri" ini, gagasan Kurikulum 2013 itu diawali dari kegelisahan melihat sistem pendidikan yang diterapkan selama ini, hanya berbasis pada pengajaran untuk memenuhi target pengetahuan siswa.

Padahal selain itu, diperlukan keterampilan dan sikap yang tak kalah pentingnya untuk mendapatkan lulusan yang handal dan beretika untuk selanjutnya siap berkompetisi secara global.

Menurut dia, Kurikulum 2013 memadukan tiga konsep yang menyeimbangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan. Dengan konsep itu, keseimbangan antara "hardskill" dan "softskill" dimulai dari Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian dapat diwujudkan.

Untuk mendukung hal itu, maka buku yang dipakai di sekolah adalah buku yang berbasis kegiatan (Activity Based Learning) untuk SD yang ditulis secara terpadu (Tematik Terpadu).

Buku Siswa lebih ditekankan pada "activity base" bukan merupakan bahan bacaan. Dalam mengajar ada dua jenis buku (Buku Siswa dan Buku Guru).

Setiap buku memuat model pembelajaran dan proyek yang akan dilakukan oleh siswa. Dalam Kurikulum 2013, buku ditulis mengacu kepada konsep kurikulum (KI, KD, Silabus).

Buku guru memuat panduan bagi guru dalam mengajarkan materi kepada siswa. Untuk pengayaan materi, guru diperkenakan membaca berbagai buku diluar buku panduan.

Musliar yang juga mantan Rektor Universitas Andalan ini mengatakan, mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka Kurikulum 2013 akan mendukung siswa menjadi produktif, kreatif, inovatif dan afektif, karena sistem dan pola pengajaran berbeda dengan sistem terdahulu.

"Di sini, semua anak dipandang memiliki potensi yang patut dieksplorasi dan diarahkan, tanpa melihat hanya dari sisi akademiknya saja dari hasil ujian tulis siswa," katanya.

Selain itu, lanjut dia, beberapa mata pelajaran itu sudah terangkum dalam satu buku yang dapat digunakan selama satu bulan pengajaran. Isi materi buku tersebut akan lebih mudah dipahami, karena menyangkut kehidupan sehari-hari siswa dan lingkungan sekitarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, dia mengatakan, untuk menerapkan kurikulum 2013 itu guru perlu dilatih terlebih dahulu agar dapat mengimplementasikan di kelas dengan menggunakan pendekatan keilmuan "scientific approach".

Dengan pendekatan tersebut, kreativitas akan terbangun dari dua pertiga dari pendidikan yang menggunakan pengamatan, menanya, menalar, mencoba dan membuat jaringan (creating networking).

"Yang jelas, kurikulum 2013 ini lebih dinamis untuk diimplementasikan di lapangan dan mutunya setara dengan model tematik yang diterapkan sekolah berstandar internasional," katanya.

Berkaitan dengan penerapan Kurikulum 2013 dalam perjalanannya setahun terakhir, Kemendikbud sudah menjangkau 295 kabupaten/kota dengan total jumlah sekolah 6.230 unit yang tersebar di 33 provinsi.

"Diharapkan kurikulum 2013 ini secara bertahap dapat menjangkau seluruh sekolah di Indonesia," kata Musliar yang dikenal getol menyosialisasikan kurikulum baru ini.

Khusus di Sulsel, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulsel Abdullah Jabbar mengatakan, sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 diantaranya di SDN Monginsidi dan Cendrawasih, Makassar.

"Baik siswa dan gurunya semuanya senang dengan kurikulum baru itu, karena lebih menekankan upaya menggali potensi masing-masing anak sesuai dengan kemampuannya," katanya.

Hal itu diakui salah seorang siswa SDN Monginsidi, Nurlaeli di Makassar. Menurut siswa kelas IV SD ini, belajar lebih nyaman, tidak merasa tertekan. Karena semua siswa dapat memberikan pendapat atau jawaban yang berbeda.

Bangku kelas pun tidak lagi berbentuk barisan, tetapi lebih pada kelompok-kelompok model persegi atau bundar, sehingga interaksi lebih akrab baik dengan teman kelas maupun dengan guru.

Keunggulan lainnya dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 ini, ungkap Jabbar, peluang lulusan siswa sekolah dasar masuk ke jenjang pendidikan berikutnya yakni SMP, sudah terbuka luas.

"Tidak ada lagi siswa kelas enam tinggal kelas atau tidak lulus, juga tidak boleh ada alasan karena tidak mampu dari segi ekonomi, sehingga tidak melanjutkan pendidikan ke SMP," ujarnya.

Dia mengatakan, kebijakan Menteri Pendidikan untuk menghapuskan Ujian Nasional bagi siswa jenjang SD dan sekolah sederajat dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada semua siswa SD dapat melanjutkan pendidikan.

Dengan demikian, bagi siswa SD yang nilainya kurang akan diberi kesempatan untuk mengulang hingga nilainya dapat memenuhi persyaratan kelulusan di tingkat SD. Selanjutnya nilai yang diperoleh dari ujian sekolah, akan dijadikan dasar untuk mendaftar di SMP dan sekolah sederajatnya.

"Ini juga untuk menyukseskan program pemerintah yang menggeser wajib belajar 6-12 tahun menjadi hingga 15 tahun (SMP)," katanya.

Sumber : Kemendikbud

2 komentar:

  1. anak saya yg duduk di jenjang kelas 1 SD, telah mendapatkan dampak kurikulum ini pak.

    di mid semester kemarin dia di beri lembaran soal pilihan dan essay.

    lembar soal pilihan berjumlah 25 kalau ga salah, dengan pertanyaan menggunakan kalimat komplek dan penalaran.

    lembar soal essay berisi 10 soal kalau ga salah. di pelajaran agama berisi penalaran, pemahaman dan bahkan di soal terakhir sebuah tafsir yang bahkan bila saya menjawabnya harus membuka setidaknya tafsir ibnu katsir.

    ketika saya mengkonfirmasi hal ini kepada gurunya, sang kepala sekolah sangat defensif dan mengatakan ini adalah kurikulum yang kami dapat dari kemendiknas yg harus kami berikan kepada siswa kami.

    saya hanya datang ke sekolah untuk mengingatkan.. ini anak kelas 1 SD loh bu....yang bahkan membaca pun masih butuh bimbingan.

    BalasHapus
  2. Terima atas atensinya...semoga komen ini juga dibaca oleh rekan-rekan guru dari sekolah dasar...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan pesan disini, tapi hindari spam ya...
Pastikan URL Anda tidak broken sebab penulis akan selalu mengunjungi Anda.
Terima kasih atas saran dan kritik Anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...